Susu Sapi Bukan Untuk Manusia (Cow Milk is not for Human)

Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

degoodfood

milk

Catatan Dahlan Iskan, CEO dan Chairman Jawa Post Group tentang Buku Miracle of Enzyme Prof Dr Hiromi Shinya

Wed Jun 10, 2009 1:51 am (PDT)

Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

“Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya,” ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.

Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair…

Lihat pos aslinya 1.297 kata lagi

Iklan

Prasangka Itu….

Kita sangat mudah berprasangka. Mari baca nasihat mendalam ini:

Anshari Taslim

Seburuk-buruk prasangka adalah prasangka terhadap niat orang, karena sudah melampaui kewenangan manusia.

Berbahaya bila kita sudah mulai menerka niat orang dengan negatif. Melihat orang menceritakan kegiatan dakwah dikatakan riya`, melihat orang berfoto dengan mujahid dikatakan narsis, mendengar orang memberi hadiah kepada mujahid dikatakan promosi dagangan.

Itulah mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang prasangka. Coba perhatikan susunan kalimat beliau yang begitu bersambung dan berhubung: ﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟﻈَّﻦَّ ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﺃَﻛْﺬَﺏُ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤَﺴَّﺴُﻮﺍ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠَﺴَّﺴُﻮﺍ ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨَﺎﻓَﺴُﻮﺍ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤَﺎﺳَﺪُﻭﺍ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺒَﺎﻏَﻀُﻮﺍ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺪَﺍﺑَﺮُﻭﺍ، ﻭَﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﻋِﺒَﺎﺩَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧًﺎ “Jangan sekali-kali berprasangka, karena prasangka (buruk) adalah sedusta-dustanya perkataan, jangan saling mengintip, jangan saling mencari aib, jangan bersikap egois (tanafus menginginkan kebaikan hanya untuknya orang lain jangan), jangan saling dengki, jangan saling membuat marah dan jangan saling membelakangi, tapi jadilah para hamba Allah yang bersaudara.” (redaksi riwayat Muslim).

Prasangka bisa menyebabkan orang saling mencari aib saudaranya. Iri dan akhirnya saling menjauh. Makanya Makhul pernah berkata, “Aku pernah melihat orang menangis ketika shalat lalu aku menyangka dia sedang riya`, akibatnya aku tidak dikaruniai tangisan selama setahun.”

Maksudnya tak lagi bisa khusyuk ibadah sampai menangis yang merupakan puncak tertinggi kekhusyu’an.

Kalau menyangka orang yang nyumbang sebagai penglaris dagangannya nanti takutnya Allah hukum kita dengan sifat pelit akhirnya kita sendiri berat menyumbang.

Lebih baik berprasangka baik kepada orang yang berniat buruk karena zahirnya mengharuskan itu, daripada berprasangka buruk kepada orang yang sebenarnya berniat baik