Sudah semestinya sebagai anak….

ibu-sedih

Suatu malam, sedang mrivat anak-anak yang masih unyu-unyu itu, aq selipin tentang pentingnya berbakti kepada orang tua,

Hayio siapa bisa jawab, apa salah satu tiket masuk surga ketika kita sebagai anak?

F : Sholaat maasss !!
V : Zakaaat…. !!
Fa : Baca Qur’an..!
D : mmm….. (geleng-geleng)

#hadewh ni anak dah gede semua… masak kagak tau.

Oke deh, aku kasih clue ya, ini kewajiban kita luw sebagai anak dari bapak ibu kita… depannya B belakangnya A,,,

F : tengahnya apa mass??

Iya deeh, tengahnya O… hayio bisa jawab pertemuan besuknya aq kash hadiah hihi..

………………………………. selang lama 30 menit kemudian, mereka berusaha jawab dan masih salah semua.

Nyerah ???…

Belum mass… tunggu…!! (kompak jawabnnyaa)

D : Berbakti kepada orang tua ? (pelan suara karena ragu)

Nah, itu dia jawabanya… Masya Allah…

———————————————–

Pengalamanku adalah contoh kurangnya pemahaman adik-adik kita tentang aktualisasi berbakti kepada orang tua. Ketika di tanya tentang surga dimana letaknya? jawabnya di bawah kaki ibu. Semua tau itu, Namun aktualisasi masih belum mengena.

Aku pribadi memang jauh dari sempurna untuk ngajak hal baik, namun semampuku aku beri pengaruh sederhana bahwa dengan kita hormat kepada Ibu bapak, suka membantunya, pamit ketika hendak pergi, cium tangan, tidak membantah, akan berdampak baik pada kehidupan kita, ada kemantapan hati, ada kemudahan hidup yang Allah berikan. Karena bagaimanapun Ridho Allah ada pada Ridhonya orang tua.

Bagaimana kisah anak yang hari-hari menggendong ibunya kemanapun, dan ternyata pengorbanan sang anak itu belum membalas kebaikan bahkan setetes keringat dari ibunya.

Bagaimana kisah ketika susahnya seorang hamba saat Sakarotul Maut karena sang ibu belum bisa Ridho/memaafkan anaknya sampai hendak mau dibakar agar bisa mati.

Bagaimana sabda Nabi ketika ditanya siapa yang harus kita dahulukan antara ibu dan ayah, Juara 1, 2 dan 3 adalah Ibunda kita barulah Ayah.

Bagaimana perasaan seorang anak ketika pernah salah kepada orang tua lalu belum sempat minta maaf sedang keduanya telah wafat.

Bagaimana kasih sayangnya mereka, hingga rela melakukan apapun demi kemauan kita. Padahal itu hanya ego kita sendiri.

Bagaimana cintanya mereka, hingga kita tak dibiarkan tersakiti walau terkena duri saja.

Seberapa sering kita mendoakan orang tua kita, Seberapa sering kita buat mereka tersenyum bahagia.

Mudah mudahan, kita termasuk anak yang sholeh yang selalu berbakti kepada orang tua.

Ya Rabb, Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku waktu kecil dulu –

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s