Lapang Dada –

trust

Kau Harus Bisa, Bisa Berlapang Dada.
Kau Harus Bisa, Bisa Ambil Hikmahnya.

Iklan

Apa Niatmu Menikah?

Apaa Niatmu…?

Kiki Barkiah

Tuut…tuuut…
Bapak: “As salamualaikum”
Ummi: “Wa alaikum salam pak, bapak….. i just want to say i love you!”
Bapak: “Wkwkwkwkwkwkwk, ada apalagi mi dirumah?”
Ummi: “Wkwkwkwwkwkwkw seruuuuuuu deh pokoknya doain ya pak biar mudah!”
Bapak: “Iya. Semangat ya mi!!”

Telepon pun ditutup dengan ucapan salam. Telepon seperti ini hampir setiap hari dalam rumah tangga kami. Bapak sudah tau kalo saya membuka pembicaraan dengan kalimat ini pasti suasana rumah sedang sangat heboh. Maka bapak selalu tertawa dan bertanya “ada apalagi mi?”. Namun, telepon yang hanya beberapa detik ini menjadi energi bagi saya untuk kembali bekerja mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Mendadak chemistry di dalam tubuh saya bereaksi menjadi energi positif yang penuh semangat.

Ah…..Bagaimanapun saya seorang wanita. Layaknya hawa yg tercipta dari tulang rusuk adam, saya begitu membutuhkan suplemen semangat dari suami tercinta dalam dunia pengasuhan anak.

Dilain waktu……

Ummi: “Pah makasih ya td siang udah dibantu doa, doanya tokcer…

Lihat pos aslinya 614 kata lagi

Sejatinya hanyalah titipan-Nya

Oleh W.S. Rendra

Seringkali aku berkata
Ketika semua orang memuji milik-ku…
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi… mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah…,
Kusebut itu sebagai ujian…,
Kusebut itu sebagai petaka…
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja
untuk melukiskan kalau itu adalah derita…

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku…
Aku ingin lebih banyak harta…
Ingin lebih banyak mobil…,
lebih banyak popularitas…,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan…,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih…
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanya untuk beribadah.

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”…

[ketika baca-baca suatu sore]

Mbah Tunggon –

WP_20150626_002

Mbag Tunggon (Sebelah Kiri)

Tadi pagi setelah sholat subuh, ada kegiatan menghafal ayat-ayat pilihan. dan beliau luar biasa antusias.

Mbah Tunggon, di usiamu yang tak lagi muda, semangatmu membara bagaikan anak muda.

Walau sudah hampir menginjak usia 70 tahun, semangat belajar ilmu agama sangat luar biasa, tidak malu bertanya kepada yang lebih tahu walau umurnya jauh lebih muda.

Senyumnya ramah, menyenangkan tingkahnya, kerendahan hatinya, sarat pengalaman hidupnya tak membuatnya merasa lebih baik dan hebat dari yang lain. Beliau bahkan paling semangat dalam belajar ‘ngaji’ (ilmu agama) daripada anak muda satu ini *nunjuk diri sendiri.

Mudah-mudahan beliau selalu dirahmati Allah, terima kasih sudah menjadi inspirasi buatku atas semangatnya yang tak mau kalah dengan yang muda, dan berbagi kisah hidupnya tentang pentingnya ilmu agama untuk jalani hidup ini. Aamiin.

WP_20150626_005

Menyikapi Rasa –

In Peace @Senggiling beach.

In Peace @Senggiling beach.

Cinta itu kuat sekali, ada harapan besar sekali, ada visi kedepan untuk hidup bersama.

Akan terasa menyakitkan ketika cinta tidak menjadi apa yang diimpikan, ketika visi kedepan untuk hidup bersama pupus di tengah jalan. Jika ada seseorang yang tidak sakit karena cintanya pupus artinya tidak ada cinta padanya. Semakin dalam cinta, semakin dalam juga luka.

“Bukan soal-soal pada ujian yang berbahaya, tapi yang berbahaya adalah ketika kamu salah menjawab soalnya.”

Tidaklah berbahaya segala masalah yang menimpa kita, Tidaklah berbahaya rasa sakit,kecewa, patah hati yang kita rasa.

Yang jadi bahaya adalah jika kita salah dalam menyikapi semua masalah itu, salah menyikapi rasa sakit itu, rasa kecewa dan patah hati itu.

Aku lebih memilih bersikap baik dalam menghadapi takdir yang buruk maupun yang baik. Berprasangka baik atas apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Tidak mungkin Allah jahat sama hambaNya. Pasti aku yakin ada niat baik dalam setiap lika-liku hidup ini.

Selalu ada cahaya setelah kegelapan, selalu ada kemudahan setelah semua kesulitan yang menyakitkan. Selalu ada pengganti yang lebih baik dari yang sebelumnya karena kepantasan kita, Selalu ada cinta yang lebih baik selama kita perbaiki diri.

Bersabar, skenario terbaik sedang bekerja.
Pantaskan diri saja.

Bukan Cinta yang mendekatkan Sukses, Namun Sukseslah memperbaiki diri, maka Cinta akan datang dengan caranya sendiri. Hanya soal waktu.
(Someone said)