Rumah di Kampung Halaman –

Ketika kami sekeluarga memutuskan untuk hijrah dan melanjutkan hidup di Kota Tanjungpinang, tentu sudah di azamkan akan berapa lama kami bertahan di kota ini 10 tahun? 30? atau selamanya? Dan Bapak sudah memutuskan untuk hidup seterusnya di kota kecil ini. Lalu yang terbesit dalam pemikiran adalah harus memiliki rumah tinggal permanen dan hak milik di kota ini. Mulailah perjuangan kami sekeluarga sedikit demi sedikit berjuang untuk memiliki sebidang tanah dan membangun rumah untuk keluarga. Setahap demi setahap dalam waktu yang cukup lama, perlahan namun terus melangkah maju, dan tanah pun terbeli lalu pembangunan rumah dimulai perlahan. Kami berjuang keras untuk itu karena itu sangatlah penting tentunya karena kami orang perantau baru di kota ini. 

Lain cerita kalo kami hanya merantau sementara cari uang di Tanjungpinang lalu tempat berpulangnya di jawa sana. Aku pikir sama juga seperti TKI di luar negeri tentu tidak mungkin mereka berpusing ria bangun aset di negeri orang. Penghasilan yang di dapat langsung kirim ke kampung halaman untuk bikin rumah atau perbagus lagi rumah yang di kampungnya. Dia pun tinggal berjuang mati-matian di negeri orang.

Lalu, pemikiran itu datang..

Bukankah kita hidup di dunia ini layaknya perantau? seperti orang mampir, hanya singgah sebentar lalu pergi lagi? Lalu apa yang sudah kita ‘transfer’ untuk rumah kita di akhirat nanti? Bukankah kampung halaman kita yang asli adalah di akhirat nanti.

Kampung kita yang sekarang paling lama kita tempat 70an tahun saja kita perjuangkan habis-habisan. Lalu untuk kampung kita yang nanti akan selamanya kita tempati gimana? disana kita lebih lama dari 70 tahun, bahkan lebih lama dari 1000 tahun. Selamanya bro! 

Ibnu Umar ra. berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi SAW dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)

Ya, Orang yang cerdas bukan orang yang cerdas mengumpulkan harta di dunia, bermegah rumah dan sarana. Orang yang cerdas adalah orang yang di balik kesederhanaannya di dunia ia membangun istana megah di surga.

Sepertinya kita masih terlalu sibuk untuk mempermegah rumah di dunia, maka jangan kaget jika setelah mati nanti hanya ‘gubuk peot’ kita dapat di akhirat. Kalo pun iya masuk surga..

Banyak jalan membangun rumah di surga, jika kau mau. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s