Gundahnya Ayah…..

album (96)

father-

Lagi surfing di facebook, dapat artikel ini nih… aku masih bujang, dari artikel ini aku makin mengerti bahwa sosok ayah itu….
cekidot sendiri deh.. 😉

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.
“Yah, beras sudah habis loh…” ujar isterinya.

Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah,
“Ayah…, besok Agus harus bayar uang praktek”.
“Iya…” jawab sang Ayah.

Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam,
“besok beliin lengkeng ya” dan saya hanya menjawabnya dengan “Insya Allah” sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.
Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar,
“jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya”.
Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, “ini, anak siapa minta susunya ke siapa”.

Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, “Iya, nanti semua Ayah bereskan” meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut namun yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam.

Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.
Ayah ini meyakini bahwa Allah tidak akan menguji seorang hamba kecuali sebatas hamba tersebut mampu memikulnya, dan Ia selalu berprasangka baik kepada Allah dengan meyakini bahwa tiada cobaan yang tidak berakhir dan Jalan keluar selalu akan datang kepada hamba-hamba yang hanya bersandar pada pertolongan dan kasih sayangNYA semata.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya.
Semoga.

By : Bayu Gautama

Iklan

Baju Spesial itu….

Baju spesial, paling berharga, tidak pernah dipajang-pajang di depan toko, siapapun bisa pegang dan coba, bahkan dijual obral, diskon besar-besaran, yang kemudian jadi barang second, loakan.

Baju paling spesial, paling berharga, selalu dibuat, diukur, dijahit pas dan khusus sekali untuk seseorang. Yang setelah dimiliki, akan dijaga agar tidak kotor, lecek, serta kusam.

Maka, demikian juga perasaan dan diri kita sendiri. Apakah kita “Baju Yang Murah” yang bisa dipegang-pegang, dicoba, didiskon, jadi barang second? Atau kita adalah baju spesialnya?

-Tere Liye-

Mengapa tidak menjadi ?

oni ok

Waiting – di Batam

Ada yang bilang….

“Susah mencari wanita sholeh jaman sekarang” – Lelaki
“Susah mencari lelaki sholeh jaman sekarang” – Wanita

Lalu kenapa kita sibuk mencari ? kenapa tidak menjadi ?

Itu ungkapan yang absolutly right menurut aku. hehe

Namun, karena untuk aku saat – saat ini sedang tidak terlalu tertarik tentang cinta, memang sedang tidak mencarinya. Masih fokus untuk tujuan-tujuan penting tahun ini dan tahun depan. Maka, aku mencoba persepsikan tentang kalimat terakhir diatas… Itu sedikit menggelitik bagiku.. 

Lalu kenapa kita sibuk mencari ? kenapa tidak menjadi ?

Coba pikir…
Lebih sulit mana, saat kamu mencari dan belum tentu cocok,
atau saat kamu sibuk memperbaiki diri menjadi pribadi berkualitas cemerlang dan di cari karena kualitas dirimu yang sangat baik  ??

Saat orang lain sibuk mencari dia yang tepat, sibukanlah dirimu untuk menjadi pribadi yang tepat agar di cari orang.

Sederhananya begini, saat kamu cari sosok yang ideal dan baik bagimu tentu kamu akan sangat perhatikan bagaimana sikap dia, cara bicaranya, penampilannya, perilakunya, kualitas pribadinya sampai kita faham benar jika dia yang ‘pas’ buat kamu. Nah ini tinggal kamu balik posisinya, bagaimana jika kamu menjadi orang yang diperhatikan itu.  

Orang yang menjadi pantas……
dicari karena kualitasnya,
dibayar mahal karena memang pantas dibayar mahal,
dimasukkan bersama orang-orang hebat agar kamu jadi semangat belajar, 
dihebatkan karena kesungguhanmu,
disayangi karena kebaikanmu,
dan, ditemukan oleh jodohmu sendiri yang kualitasnya setara denganmu.
tentu yang saat itu dirimu sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Ada orang yang berpikiran bahwa bila kita tidak memikirkan untuk mencari pasangan maka kita tidak akan menemukannya. Layaknya bila kita tidak mencari uang bagaimana akan menemukannya.

Bukankah dalam hadits panjang riwayat Bukhori Nabi sudah menjelaskan, 

Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya (termasuk jodoh).

Jodoh, rejeki sudah ditulis….hukum kepantasan pun juga.
kalo kamu orang baik, maka pasanganmu juga baik.
kalo kamu semangat bekerja, rejeki pun semangat menghampirimu.
kalo kualitasmu pantas di bayar mahal, pasti orang berebut bayar mahal padamu.

kalo kamu malas-malasan, pun rejeki juga bermalasan datang.

Jadi segala aspek pun.. berlaku..
kenapa kamu sibuk menuntuk ‘hak’ ?
yang kadang kewajiban saja masih banyak belum dikerjakan.
kenapa kamu tidak menjadi ‘orang yang punya kualitas dibayar mahal’ ?
maka pasti rejeki akan mencarimu.

Dan pada akhirnya kamulah yang dipilih karena memiliki kualitas diri yang patut untuk diperhitungkan.

Berjuanglah agar menjadi pantas, tak perlu lah payah mencarinya..
Apapun itu, nantinya akan menghampirimu.

JADIKAN HATI BAK TELAGA –

WP_20150611_102

Danau Singkarak – Padang

Artikel ini tentu banyak sekali beredar di buku-buku atau di blog-blog lain yang membahasnya, entah dari siapa yang pertama kali membuat kisah ini. Ada yang dari sudut pandang guru dan murid, ada juga dari sudut pandang kakek dan cucunya. Namun intinya adalah ada pelajaran bagus dari kisah ini, mudah-mudahan bisa di ambil manfaatnya.

——————————————————————————————

Suatu ketika, seorang kakek bijaksana mendatangi cucunya yang belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah ceriamu itu?” tanya si Kakek.

“Kakek, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tidak ada habis-habisnya,” jawab pemuda itu dengan lesu.
Si Kakek tersenyum. “Ambillah segelas air dan dua genggam garam, bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si pemuda pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan kakeknya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke gelas itu,” kata Si Kakek.
“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”
Pemuda itu pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. “Bagaimana rasanya?” tanya si Kakek.
“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab pemuda itu dengan wajah yang masih meringis. Si Kakek tertawa terkekeh-kekeh melihat wajah cucunya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Si Kakek membawa cucunya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
Pemuda itu menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan kakek, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata si Kakek.
Pemuda itupun menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau,  lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, si Kakek bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali,” kata pemuda itu sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak sama sekali,” kata pemuda itu sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Si Kakek hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan cucunya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata si Kakek setelah cucunya selesai minum.
“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Begitulah hidup..kau masih muda dan perlu banyak makan garam kehidupan.”
“Semua orang mengalami masalah dalam hidupnya, dan merasakan asinnya penderitaan karena masalah tersebut. Namun yang membedakan adalah sangat bergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi, supaya kamu tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas, dan jadikan hatimu sebesar danau.”

Hikmah yang bisa kuambil,

Diibaratkan oleh sang Kakek bahwa garam adalah permasalahan hidup ini. Kita sebagai manusia tidak mungkin lepas dari namanya masalah. Tinggal bagaimana cara kita menyikapi masalah itu, itu yang lebih penting.

Nah, dari berbagai cara menyikapi masalah, mana yang kita pilih ?
Kamu mau menjadi gelas yang ketika masalah itu datang akan terasa sangat ‘Asin’ sekali. 
Atau kamu mau menjadi telaga dimana masalah itu menghampiri, kamu sama sekali tidak terpengaruh akan ancaman, penderitaan, makian, ocehan, pengkhianatan atau apapun itu hatimu tetap teguh, tegar, sabar dan menyegarkan (selalu positif).

Jadikan hatimu, pemikiranmu seluas telaga yang menyegarkan airnya, menyejukkan pandangan dan memberi ketenangan bagi sekitarmu. Meskipun kamu sedang dirundung banyak masalah, tak mengapapun jika kamu menjadi telaga itu.

Semangat pagi ! 🙂

– FILM “INSIDE OUT” – Meet a Little Voices inside your head.

inside-out61

“Inside Out”

Lamaa ga ‘nge-review” di blog ini, akhirnya nemu juga film yang, I think this is good movie. Aku bukan ingin mengulas atau review tentang teknis film ini namun tentang apa yang bisa di ‘ulas’ baiknya dari film ini. Mudah-mudahan ada makna yang bisa di petik dari film ini.

Inside Out adalah film dari Disney dan Pixar yang bercerita tentang emosi perasaan dan psikologi yang alur ceritanya dari sudut pandang 5 sisi perasaan yang bisa muncul di diri manusia, Joy (Bahagia), Anger (Marah), Sadness (Kesedihan), Fear (Ketakutan), dan Disgust (Jijik).

Disney-Pixar-Inside-Out

Secara singkat ini tentang kisah gadis kecil bernama Riley yang harus beradaptasi dengan lingkungan barunya karena pindah rumah bersama keluarga kecilnya, bagaimana 5 sisi perasaan tersebut bergejolak di dalam “headquarters” Riley ini menjadi sangat menarik. Silakan bisa liat di bioskop secara utuh tentang film ini, aku yakin ga kecewa deh.

Poin yang dapat aku ambil dari film ini adalah :

Kita terkadang perlu “Sadness” agar hati mampu berempati.

Joy yang merasa punya andil untuk membuat Riley selalu bahagia tentu adalah hal yang ‘dipandang’ baik. Hingga suatu ketika perlahan Joy ingin membatasi peran ‘Sadness’ agar Riley bahagia selama hidupnya. Namun ternyata lama kelamaan sadar bahwa kehidupan Riley, Sadness juga punya peran penting untuk merekatkan hubungan keluarga kecil Riley.

Kita mungkin sering dengar bahwa dengan perasaan bahagia kita mampu mengatasi semua permasalahan, It’s not totally right, guys.

Adegan ketika Bing Bong, teman imajiner Riley kehilangan keretanya, Joy berusaha menghibur Bing Bong dengan caranya agar bahagia, dan berkata kepadanya bahwa ia tidak perlu sedih terus karena masih ada yang harus dilakukan. Sayangnya Bing Bong masih tetap bersedih.

Sadness lalu mendekati Bing Bong, “Pasti sedih ya keretamu hilang.”
Joy langsung menyahut, “Apa!! Kenapa kamu mau membuat dia lebih sedih lagi?” 

Dan akhirnya justru Bing Bong mampu bangkit dari kesedihannya.

Disney Pixar Inside Out Bing Bong 06

Kadang kita perlu “Sadness” untuk berempati dengan orang yang dalam kesedihannya agar kita mengerti bagaimana membuatnya kembali bahagia.

Seperti ketika adik kecil atau anak yang rusak mainannya lalu menangis. Seringnya adalah ayah bundanya justru memarahi anaknya, “Makanya kalo punya mainan di rawat baik-baik” atau dengan kata lainnya. Bukankah itu justru menutup rasa empati kita sendiri, seolah memberi jarak.

Bagaimana jika saat seperti itu, kita coba pahami perasaan mereka seperti yang dilakukan Sadness pada Bing Bong.
“Waah, Adik pasti sedih ya mainannya rusak. Ayah tahu itu mainan yang paling kamu sukai.”
Cobalah perhatikan lalu dengarkan apa yang anak ingin ceritakan. Tentu ini dapat membuat anak bisa mengerti apa yang dirasakannya dan mengatasi kesedihannya sendiri.

Wah, saye masih bujang om.. Ya ini tentu bisa juga di aplikasikan dengan sesama teman atau sahabat kita ketika mereka suka curhat. 🙂

Bahagia selamanya itu tidak normal, 
Kadang justru kesedihan adalah teman yang baik dalam hidup.

Dari dulu aku memang kurang setuju jika ada film yang endingnya “Happily ever after” because it’s impossible.. Belum ada film yang mampu menggambarkan indahnya surga, karena hanya ketika hidup kita sudah di surga baru bisa “Bahagia Selamanya” 🙂

insideout-hugs

Film ini sangat realistis, lika liku hidup itu pasti, ada marah, ada senang, ada kesedihan. Kesedihan justru membuat kita tersambung dengan orang-orang di sekitar kita. Apalagi bicara keluarga dan justru menimbulkan sebuah rasa bahagia dan kehangatan yang lebih daripada sebelumnya. 

Seperti Joy yang baru menyadari ketika melihat bola kenangan Riley saat dia gagal dalam pertandingan Hockey lalu terduduk sedih sendirian di pohon rindang. Kemudian Ayah ibunya datang untuk mendekap Riley. Dan rasa kekeluargaan pun makin terasa erat dan hangat.

screen-shot-2015-03-10-at-2-36-40-pm-inside-out-trailer-breakdown-is-that-a-toy-story-easter-egg-png-296975

Kau pun tahu, hidup ini tercipta berpasangan, ada sedih ada juga senang. Dua hal yang tak bisa dipisahkan. Di balik kesedihan pun ada kebahagiaan.

Dan pada akhirnya setiap emosi memiliki peran dalam diri kita.

Di ujung film ini akhirnya Joy menyadari hal penting bahwa semua temannya Anger, Sadness, Fear, dan Disgust juga punya peran penting dalam mengisi perasaan Riley untuk menjalani hidupnya.

Akhirnya kita pun tidak bisa minta sama Allah untuk menghilangkan sifat suka “marah”nya kita, suka “sedihnya” kita, ataupun betapa “penakut”nya kita dan sifat-sifat dalam diri yang tidak kita suka. 

Selalu ada alasan hebat mengapa diri kita ini dicipta,
Selalu ada makna luar biasa mengapa kita punya kelemahan ini itu,
Selalu ada tujuan mengapa kita dilebihkan pada hal tertentu.

Tak mengapapun…
Hidup ini akan menjadi indah dengan segala warna warninya.

Bukankah pelangi dikatakan indah karena banyak warna.
Begitu juga diri ini yang juga tak kalah hebat dengan segala kurang lebihnya. 

Tinggal bagaimana kita pandai dalam mengolah “headquarters” kita.

sukses-besar-inside-out-tembus-angka-rp-987-triliun-20150829234758

inside-out-1