Karena Cinta –

12977127_999903416745343_885066796968286873_o

Siapa yang pernah kehilangan harta benda?
Kehilangan HP, laptop, dompet?
Maka jangan pernah sekali-kali menyalahkan Allah
Duhai, Allah terlalu kaya untuk mengambil harta kita
Dialah yang memiliki semesta alam

Siapa yang pernah kehilangan kesempatan?
Kesempatan sekolah, kesempatan pekerjaan?
Maka jangan sedikitpun menyalahkan Allah
Wahai, Allah terlalu pemurah untuk menutup kesempatan kita
Sungguh Dialah yang menciptakan kehidupan,
yang darinya muncul berjuta kesempatan

Siapa yang pernah kehilangan orang yang disayangi?
Suami? Istri? Anak?
Maka jangan tergoda menyalahkan Allah
Sungguh, Allah terlalu penyayang untuk mengambil orang yang kita sayangi
Dialah yang masih pengasih dan penyayang

Siapa yang pernah gagal rencananya?
Gagal semua yang sudah disusun?
Maka jangan pernah menyalahkan Allah
Sungguh, Allah terlalu sempurna rencananya untuk gagal
Dialah yang maha merencanakan, dan pasti sempurna sudahlah

Lantas kenapa beban kehidupan itu datang?
Silih berganti terasa, menghimpit dada rupanya, dan membuat sesak?
Kemudian kenapa semua kejadian harus terjadi?
Membuat kaki melangkah berat, nafas menghela panjang?

Karena Allah mencintai kita.
Di mana-mana, tentu saja, cinta itu harus diuji.
Mengertilah, hal yang sangat sederhana ini
Allah mencintai kita, maka Allah menguji kita
Sungguh tidakkah kita ingin membalas cinta tersebut?
Dengan selalu mengingat, menyebut, bersama
Maka semoga kita bisa membalas rasa cinta itu dengan baik

Tere Liye –

Iklan

Hukuman yang tak terasa olehmu

WP_20160518_16_34_23_Pro

Renungan untukku dan untukmu….

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Seorang murid mengadu kepada gurunya:
“Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”.

Sang Guru menjawab dengan tenang:
“Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”.

“Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: Sedikitnya Taufiq (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”.

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari “kekerasan hatinya dan kematian hatinya”.

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di hadapanNya..?

Sadarkah engkau tidak diberikan rasa khusyu’ dalam shalat..? 

Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur’an, padahal engkau mengetahui firman Allah:
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”.

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya…

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang…

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..?? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..??? 
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..??? 

Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo’a kepadanya..???

Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..??? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..??? 

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..??? 

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..??? 

Semua bentuk pembiaran ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya… 

Waspadalah wahai anakku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban. 

Karena hukuman yang paling ringan dari Allah terhadap hambaNya ialah:
“Hukuman yang terasa” pada harta, atau anak, atau kesehatan.

Sesungguhnya hukuman terberat ialah: “Hukuman yang tidak terasa” pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa.

Karena itu wahai anakku, Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…

(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-‘Aidan di Masjidil Haram pada 22 Rajab 1437)

Sudah sebaik apa kamu jadi anak ?

IMG-20160227-WA0001

Suatu hari yang lalu, ayah dari sahabatku meninggal dunia tanpa di duga. Memang beliau sudah di vonis kanker stadium akhir. Namun ternyata bukan itu yang menjadi sebab kematiannya tapi karena serangan jantungnya ketika di kamar mandi tengah malam.

Kematian itu bisa dimana saja, kapan saja, dengan cara apa saja. Wallahu’alam.

Sebelumnya sang ayah dari sahabatku telah berpesan kepada sahabatku, “Nak! doakan papa banyak banyak yah, nanti kamu yang jadi imam nyolatin papa.” “Siap pah,..beres..”

Waktu itu sang anak, tidak tahu sama sekali, tidak terlintas kalo itu masa hidup ayahnya yang mau bertemu ajal. Sahabatku ini berkata padaku, ” Waktu itu nik (sapaanku), aku ga mikir macem macem, ya sebagai anak ya tentulah doain papahnya, tapi ternyata itu salah satu kalimat terakhir yang aku dengar dari papah….”

Pada akhirnya dialah yang menjadi imam mensholatkan papanya. Di saat itulah dia menyadari sesuatu. “Nik, abis mensholati jenazah papah, aku baru sadar… Inilah kenapa papa keras waktu aku masih kecil disuruh belajar Ngaji, tapi aku justru malah suka keluar masjid kabur bermain saat ustadz lagi ngajar. Dah terlanjur gede gini, dah lupa pula pelajaran waktu ngaji dulu baru sadar pentingnya mendoakan orang tua. Nanti kalo aku mati siapa lagi yang doain aku kalo bukan anak anaku.”

Aku terdiam, terbayang wajah ibu bapak yang selama ini merawatku, mendidiku, membesarkan aku. Betapa besar pengorbanan mereka.

Betapa kita terlena, merasa lebih bangga jika adik-adik, anak-anak kita mampu bahasa inggris dengan baik, meraih ranking terbaik di kelasnya, juara olimpiade dan lain sebagainya. Tapi kita lupa, kita lupa… Apakah kita sudah mendidik mereka untuk menjadi baik agamanya, untuk menjadi anak-anak yang mampu mendoakan kita nanti kalo sudah tiada. Betapa lucunya jika saat kita meninggal nanti anak kita tak bisa jadi imam untuk mensholati kita, harus panggil orang untuk mendoakan kita karena anak kita tak bisa berdoa untuk kita. Lalu kemana kita waktu masih hidup ? 

Jangan sampe anak-anak kita menjadi ‘generasi amin’, generasi yang bisanya meng’amin’kan tanpa bisa berdoa karena kesalahan kita tidak mendidik anak kita belajar tentang agama.

Tanyakan pada diri sendiri, 
Sudah sebaik apa kamu jadi anak kepada orangtuamu ?
Sudah sebanyak apa kasihmu, doamu, kepada orangtuamu ?
Apakah orangtuamu bahagia denganmu ?

Sudahkah anakmu kamu ajarkan pendidikan tentang agama ?
Mau kamu jadikan apa anakmu nanti ?

Anak tidak akan jauh berbeda dengan orangtuanya,
Semakin kamu berbakti kepada orangtuamu sekarang, mudah-mudahan anakmu juga akan sama baktinya kepadamu. Aamiin.