Seluas Laut

photo_2018-07-03_11-23-28

 

Aku belajar dari mereka berdua.

Bahwa hatimu adalah wadahmu, tempat menampung duka atau bahagia.

Maka, jadikan hatimu seluas laut, yang sepahit apapun sungai mengalirinya tetap ia tampung dengan tenang lalu mengubahnya menjadi segar dan suci.

Jangan sesempit gelas, yang satu tetes racun bisa saja membunuhmu.. Karena yang harus luas itu hati,
Yang harus sempit itu dengki,
Yang harus besar itu maaf, dan
Yang harus kecil dan hilang itu dendam.

 

Iklan

Jadi Orang Baik

oooo

Menjadi Orang baik memang susah.
Lebih susah lagi kalo tak menjadi orang baik.

Ujian orang baik itu banyak.
Lebih banyak lagi ujian orang yang tak baik.

Apakah kamu merasa dibiarkan begitu saja, ketika kamu telah berikrar bahwa aku telah beriman, aku ingin jadi baik. Tanpa adanya ujian bagimu ?

Orang baik, sekolahnya seumur hidup.
Kehidupan bak universitas.

Mau jadi baik, langkah pertama daftar dulu… Artinya seberapa besar niat dalam hatimu mau jadi baik.

Lalu, masuk ada tesnya… Niatmu diuji… Sungguh-sungguhkah.

Lalu setelah diterima ada sesi pembelajaran. Seberapa istiqomah kamu belajar jadi orang baik di setiap sesi kehidupanmu.

Ada tes tengah semester, tes semester… Begitupun ada ujian praktik kehidupan, jika lulus maka kamu naik level.

Selesainya adalah kematian, tiba waktunya kamu memetik hasilmu, kesabaranmu, kesungguhanmu, keistiqomahanmu semua akan diperhitungkan, dinilai, ditimbang.

Hari terpentingmu adalah ketika tanda usahamu menjadi orang baik diterima, Masuk Surga. 

Hai kawan, 
Apapun yang terjadi tetaplah jadi baik.
Dunia memang melenakan, bahkan kadang menghinakan.
Tetaplah jadi baik.

Seberapa membahagiakannya dunia, ataupun menyakitkannya dunia ini..
Tetaplah pegang prinsip-prinsip kebaikan.
Karena hidup ini hanyalah perjalanan, semua akan berlalu masanya.
Tetaplah jadi baik.

Mungkin tidak sekarang balasanmu, tapi nanti… Ada masanya kamu memetik hasil kesabaranmu.

Apapun, bersabarlah, tetaplah jadi baik.
Karena Allah selalu bersama orang baik.

Batam-

Its not easy….

oni

 

its not easy tobe me.. 
Yaa memang, setiap insan punya jalan kehidupannya masing-masing.

masih ingat kisah seorang ayah dan anak sedang duduk di kereta. Entah bersumber dari mana.

Seorang lelaki berusia sekitar 24 tahun sedang berada di kereta api bersama dengan ayahnya. Ia melihat keluar melalui jendela kereta api dan berteriak-teriak, “Ayah, lihat pohon-pohon itu berjalan!”

Ayahnya pun tersenyum, namun pasangan muda yang duduk didekatnya memandang perilaku kekanak-kanakan lelaki yang sudah berusia 24 tahun dengan kasihan. Tiba-tiba lelaki tersebut kembali berseru, “Ayah, awan itu terlihat berlari mengejar kita!”

Pasangan ini tidak bisa menahan rasa risih mereka dan berkata kepada orang tua lelaki tersebut, “Mengapa anda tidak membawa anak anda ke dokter ahli jiwa?”

Orang tua itu tersenyum dan berkata….
“Saya sudah membawanya ke dokter, dan kami baru saja pulang dari Rumah Sakit. Anak saya buta sejak lahir, dia baru saja mendapatkan donor mata dan baru bisa melihat hari ini”.

Jadi, kehidupan ini memang tidak mudah. 
Sejatinya setiap orang memiliki kisah hidup yang tak perlu semua orang tahu.
Luka, susah, sedih, bahagia, senang pasti tiap orang memiliki episode-nya sendiri-sendiri.

Jangan menilai orang lain sebelum kamu benar-benar mengenal, memahami mereka. Boleh jadi kenyataan yang terjadi dapat mengejutkan kamu. 

Begitulah…

Momen itu…

photo_2018-01-01_09-42-53

Sebagaimana adanya…..

Biarlah,
Hari berganti hari,
Bulan berganti bulan,
Tahun berganti tahun,
Memang begitulah perjalanan sang waktu.

Yang jadi soal, adalah apakah kamu tetap saja diam di tempat, tak bergerak apalagi berubah.. Atau apakah kamu tetap semangat berjuang, bersaing dengan waktu, bergerak maju demi menjadi Baik.

Ini bukan soal perayaan, bukan soal momentum.
Ini soal kamu!
Sudah menjadi apa kamu sejauh ini ?
Sudah sampai mana perjuanganmu ?
And then, What’s Next ??

Ini tentang kamu, setiap saat…
Semakin sadar diri, tau diri…
Waktu bisa saja menebasmu kapan saja…

Jadilah baik, tetaplah selalu jadi baik,
Apapun yang Dunia beri, tetaplah jadi baik.

Adaka pilihan lain ?

 

~ masih di bumi melayu, dalam rintikan hujan menyayat dosa.
Selamat datang Dua Ribu Delapan Belas.

 

Selalu Ada Hal Yang Tak Perlu Dipaksakan

photo_2017-12-26_15-23-31

Semesta ini bukan dicipta begitu saja, tanpa alasan…
Bukan atas pesanan atau titipan sesuatu agar dibuat demikan dan demikian skenarionya..

Ya memang begitulah Semesta bekerja, berjalan dengan caraNya sendiri.
Sadarlah, dengan siapa dan untuk apa kita dicipta..
Hingga kita menjadi tau diri dan sadar diri..

Pada akhirnya, 
Segala sisi kehidupan, selalu ada puing-puing yang memang tak perlu dipaksa..
Yaa dipaksa oleh kehendak kita sendiri..

Hey… Toh kita ini apa, siapa kita…
Like an actress… Just play the show….
Terima saja, biar saja kehidupan mengalir apa adanya..
Pastikan saja langkah kita masih tetap tegak berdiri dan maju kedepan.. 
Sopo nandur bakal ngunduh, Siapa menanam bakal menuai… itu saja rumusnya..

Yakiin… Sang Sutradara takkan hentikan skenariomu disitu saja, masih banyak episode indah didepan sana menantimu.. 

Bangun…….
Sebab hidup teramat berharga 
Dan kita jalani, Jangan menyerah
Berjalan lebih jauh, Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna, Bersama, bersama…. ~ Banda Neira

 

 

 

Tamparan Dosa

dss

Adakala, hidup ini memang tak selalu berbicara tentang apa yang kita mau lantas terjadi begitu saja. Ada sebuah kekuatan yang sadar atau tak sadar kamu tak bisa mengontrolnya, bisa jadi inginmu jadi terwujud atau hanyalah menjadi kenangan saja.

Namun, perjalanan hidup ini panjang walau sejatinya singkat.

Tak peduli seberapa sakitmu atau senangmu dalam menjalaninya, waktu tetap terus berputar, menggilas setiap apa dan yang akan terjadi. Siap tak siap.

Pun, ada rumusan hidup yang harus kau tau.

Hidupmu kan indah jika kau menanam bibit keindahan.
Hidupmu kan suram jika kau menanam bibit kebencian.

Adakala ketika kau tanam bunga hingga mekarnya. Rumput ikutan juga. Mau tak mau hal baik pun harus kita jaga dari liarnya rumput agar tak mengganggu indahnya bungamu.

Adakalanya Dosa menamparmu ketika kamu lupa, lupa menjadi benih kebaikan yang kau tanam. Yaa… Lalai membuatmu dosa.

Semakin lama kau biarkan liarnya rumput semakin menodai indahnya bungamu, bisa jadi layu bahkan mati. Apa gunanya….

Tamparan Dosa atas lalaimu sendiri, membuatmu sadar dan merasa beruntung. Selagi hidupmu masih disini, di dunia ini Tamparan Dosa membuatmu rajin menyiram kembali benih benih kebaikan yang tanam, menjaga dan merawatnya sepenuh hati, hingga saatnya kelak rasa sabarmu berbuah manis. Bunga menjadi indah dan semerbak wanginya menyebar ke penjuru dunia.

Dosa, kesalahan memang sudah seharusnya menjadi tamparan bagimu, bisa melenakan atau menyakitkan kadang, namun menyadarkan. Karena hatimu menjadi tak tenang.

Menyadarkanmu dari lalainya siapa kamu, lalainya kewajibanmu.
Sudahlah, Jangan lagi terulang tertampar dosa.

Jalan ini panjang, Jalanin aja dengan penuh kebaikan semampu kau bisa lakukan.
Tak perlu risau akan masa depan, keajaiban akan membantumu dalam kesabaranmu.

Tamparan Dosa ini membuatmu lebih kuat dan lebih baik.
Namun tetap akan lebih baik, jika kau menjadi baik tanpa harus ditampar dosa.
Gunakan akal dan hatimu..

Jika kamu mau durhakai Allah, Durhakailah ketika di tempat dan saat Allah tak bisa melihatmu.

Cerita Hidup.

photo_2017-09-22_14-59-18

Ada yang bilang sama aku,

“Dalam hidup, kita hanya tahu baik atau tidaknya sesuatu hanya dari perspektif kita aja. Yaa, bisa jadi itu benar benar baik, atau malah bisa juga sebaliknya”

“Tulislah cita-citamu, mimpi-mimpimu di selembar kertas dengan sebuah pensil, lalu berikan penghapusnya kepada Allah. Biarkan, biarkan Allah yang menghapus bagian-bagian yang salah dan tak sesuai dengan mengganti mimpimu dengan cerita yang jauh lebih indah.”

Ah, begitulah perjalanan hidup.

Wa kafa billahi wakiila…
Dan Cukuplah Allah sandaran hidup, di permulaan, pertengahan, dan akhir cerita hidupmu.

 

Cukup sekian dulu ya…

Undangan Allah.

1

Kapan ya Undangan Allah itu datang…?
Allah mengundang kita untuk kembali pada-Nya…
seolah Allah berkata, “Hai hamba-Ku, sini deket sama Aku, Aku rindu”.

Terkadang, bahkan mungkin sering Undangan Allah itu datang, tanpa kamu sadar, kamu acuhkan.

Allah mengundangmu dengan kesusahan, kesedihan, galau dan gelisah. 
Itu semua Undangan dari Allah, supaya kamu bisa datang, bertemu dan curhat hanya pada-Nya sambil berkata, ” Allah…. Ya Allah aku hamba-Mu kembali pada-Mu walau penuh lumuran dosa”.

Ada saatnya juga. Allah ingin menjauhkan kamu dengan-Nya. Mudah bagi Allah, dan itu memang Maha Kuasa-Nya, karena saking nakalnya kamu sudah diundang tapi tak pernah datang.

Dengan apa? biasanya dengan kesenangan. Iya kesenangan.
Kamu suka terlena kan dengan  pujian, penghargaan, kesenangan. 
Seolah kamu merasa hebat dan itu semua karena hasil jerih payahmu.
Padahal tanpa Allah, kamu tak bisa apa-apa.

Tapi, jika kamu diberi ujian kesenangan dan tak lupa dengan Allah.
Itulah Allah paling bahagia.
Allah suka kamu ingat sama Allah ga cuma saat butuhnya aja.

Dan terkadang Allah sedih, marah, ketika kamu berlagak sombong, acuh pada Undangan Allah. Dia mengundangmu dengan kesedihan, kegalauan, kesusahan namun kamu tetap sombong dan merasa hebat, merasa bisa mengatasinya sendiri. Apa ga sadari diri ?

Beda dengan manusia,
Manusia mana yang mau mengundangmu ketika saat susah, dan bersedia menolongmu terus menerus tanpa pamrih, dan bersedia mendengar keluh kesahmu tanpa henti.? Tak mungkin ada.

Allah mengundangmu,
di setiap saat kamu butuh, Dia selalu ada.
di setiap saat kamu sedih, Dia ada untukmu.
bahkan ketika kamu lupa dengan-Nya pun, Nikmat dan Rahmat-Nya tak henti datang padamu.

Lalu, kemana kamu saat Allah mengundangmu ?

 

 

Gajah dan si Buta

WP_20161229_14_12_32_Pro

Dalam berlogika, berfikir, apalagi menyimpulkan tentang segala sesuatu.
Berhati-hatilah. 

Kalo ga punya wawasan atau referensi yang luas, bisa jadi yang kamu pegang rupanya belalai gajah. Kamu pikir itu ular.

Terutama soal Agama.

Masih ingat tentang kisah Gajah dan si Buta, aku cuma sekedar meringkasnya.
Ada 6 orang buta yang ingin sekali menyentuh gajah, pengen tahu gajah itu seperti apa. Terjadilah percakapan.

Si buta 1 : “Ternyata gajah itu keras, panjang dan runcing!”
(rupanya gading yang ia pegang)

Si buta 2 : “Bukan, gajah itu panjang seperti ular!”
(Itu kan belalai)

Si buta 3 : “Gajah tidak mirip ular, melainkan seperti sebuah kipas raksasa.”
(ini telinga gajah yaa)

Si buta 4 : “Kalian semua salah! Gajah itu ya mirip sebuah pilar besar.”
(ternyata kaki gajah)

Si buta 5 : “Gajah itu mirip seperti sebuah dinding besar.”
(badan gajah memang besar)

Si buta 6 : “Gajah bentuknya seperti seutas tali, kok. Mirip cambuk.”
(itu ekor gajah)

 

Memang ga salah, tapi bisa jadi malah menyesatkan.
Karena, sebanyak-banyak yang kita ketahui, lebih banyak yang tidak kita ketahui.

Masa Lalu dan Masa Depan

P_20161229_052230

Bahkan, setiap mentari terbit pertanda hari yang baru.

 

“Setiap orang suci punya masa lalu, setiap pendosa punya masa depan”
– Oscar Wilde –

Tak perlu panjang aku bercerita,
Kau tahu, terkadang justru orang yang memiliki masa lalu terburuk pun bisa menjadi orang yang terbaik di masa depan. Siapa tak kenal para sahabat Nabi yang dulu sebelum kenal Islam begitu jahilnya mereka, namun lihat setelah mengenal Islam. Boleh jadi kita yang Islam dari lahir tak akan bisa menjadi sehebat mereka sampai dijamin surga.

Kau tahu, terkadang justru orang yang baru saja mengenal hidayah, baru mengenal kebaikan pun bisa menjadi lebih hebat semangatnya dalam berhijrah. Tak seperti kita yang dari lahir kenal tuntunan tapi hanya sebatas tahu, malas dalam pengamalan.

Kau tahu, bahkan Nabi pernah menceritakan ada seorang yang catatan amalnya seperti penghuni neraka, hingga kurang sejengkal ia masuk neraka. Namun karena takdir pada akhirnya dia berbuat baik lalu masuklah surga. Sebaliknya ada seorang yang catatan amalnya seperti penghuni surga, bahkan kurang sejengkal dia bisa masuk surga. Namun karena takdir akhirnya dia berbuat maksiat lalu masuklah ke neraka.

Kau tahu, sekelam apapun masa lalu seseorang, masa depannya masih sangat suci. Takkan pernah kau bisa menilai seseorang atas dasar masa lalu secara mutlak. Namun lihat bagaimana akhir hidupnya, boleh jadi kau akan terperangah.

Kau tahu, setiap insan berhak menjadi baik, tidak seperti kamu yang sudah merasa baik padahal aslinya penuh munafik.

Dan akupun belum tentu sebaik yang terlihat, boleh jadi terburuk di mata Allah.
Maka, manusia jangan jadi Tuhan yang bisa menjustifikasi hati orang.
Tetaplah baik, tetaplah santun, tetaplah pandai melihat kedalam sebelum bicara.