Undangan Allah.

1

Kapan ya Undangan Allah itu datang…?
Allah mengundang kita untuk kembali pada-Nya…
seolah Allah berkata, “Hai hamba-Ku, sini deket sama Aku, Aku rindu”.

Terkadang, bahkan mungkin sering Undangan Allah itu datang, tanpa kamu sadar, kamu acuhkan.

Allah mengundangmu dengan kesusahan, kesedihan, galau dan gelisah. 
Itu semua Undangan dari Allah, supaya kamu bisa datang, bertemu dan curhat hanya pada-Nya sambil berkata, ” Allah…. Ya Allah aku hamba-Mu kembali pada-Mu walau penuh lumuran dosa”.

Ada saatnya juga. Allah ingin menjauhkan kamu dengan-Nya. Mudah bagi Allah, dan itu memang Maha Kuasa-Nya, karena saking nakalnya kamu sudah diundang tapi tak pernah datang.

Dengan apa? biasanya dengan kesenangan. Iya kesenangan.
Kamu suka terlena kan dengan  pujian, penghargaan, kesenangan. 
Seolah kamu merasa hebat dan itu semua karena hasil jerih payahmu.
Padahal tanpa Allah, kamu tak bisa apa-apa.

Tapi, jika kamu diberi ujian kesenangan dan tak lupa dengan Allah.
Itulah Allah paling bahagia.
Allah suka kamu ingat sama Allah ga cuma saat butuhnya aja.

Dan terkadang Allah sedih, marah, ketika kamu berlagak sombong, acuh pada Undangan Allah. Dia mengundangmu dengan kesedihan, kegalauan, kesusahan namun kamu tetap sombong dan merasa hebat, merasa bisa mengatasinya sendiri. Apa ga sadari diri ?

Beda dengan manusia,
Manusia mana yang mau mengundangmu ketika saat susah, dan bersedia menolongmu terus menerus tanpa pamrih, dan bersedia mendengar keluh kesahmu tanpa henti.? Tak mungkin ada.

Allah mengundangmu,
di setiap saat kamu butuh, Dia selalu ada.
di setiap saat kamu sedih, Dia ada untukmu.
bahkan ketika kamu lupa dengan-Nya pun, Nikmat dan Rahmat-Nya tak henti datang padamu.

Lalu, kemana kamu saat Allah mengundangmu ?

 

 

Gajah dan si Buta

WP_20161229_14_12_32_Pro

Dalam berlogika, berfikir, apalagi menyimpulkan tentang segala sesuatu.
Berhati-hatilah. 

Kalo ga punya wawasan atau referensi yang luas, bisa jadi yang kamu pegang rupanya belalai gajah. Kamu pikir itu ular.

Terutama soal Agama.

Masih ingat tentang kisah Gajah dan si Buta, aku cuma sekedar meringkasnya.
Ada 6 orang buta yang ingin sekali menyentuh gajah, pengen tahu gajah itu seperti apa. Terjadilah percakapan.

Si buta 1 : “Ternyata gajah itu keras, panjang dan runcing!”
(rupanya gading yang ia pegang)

Si buta 2 : “Bukan, gajah itu panjang seperti ular!”
(Itu kan belalai)

Si buta 3 : “Gajah tidak mirip ular, melainkan seperti sebuah kipas raksasa.”
(ini telinga gajah yaa)

Si buta 4 : “Kalian semua salah! Gajah itu ya mirip sebuah pilar besar.”
(ternyata kaki gajah)

Si buta 5 : “Gajah itu mirip seperti sebuah dinding besar.”
(badan gajah memang besar)

Si buta 6 : “Gajah bentuknya seperti seutas tali, kok. Mirip cambuk.”
(itu ekor gajah)

 

Memang ga salah, tapi bisa jadi malah menyesatkan.
Karena, sebanyak-banyak yang kita ketahui, lebih banyak yang tidak kita ketahui.

Masa Lalu dan Masa Depan

P_20161229_052230

Bahkan, setiap mentari terbit pertanda hari yang baru.

 

“Setiap orang suci punya masa lalu, setiap pendosa punya masa depan”
– Oscar Wilde –

Tak perlu panjang aku bercerita,
Kau tahu, terkadang justru orang yang memiliki masa lalu terburuk pun bisa menjadi orang yang terbaik di masa depan. Siapa tak kenal para sahabat Nabi yang dulu sebelum kenal Islam begitu jahilnya mereka, namun lihat setelah mengenal Islam. Boleh jadi kita yang Islam dari lahir tak akan bisa menjadi sehebat mereka sampai dijamin surga.

Kau tahu, terkadang justru orang yang baru saja mengenal hidayah, baru mengenal kebaikan pun bisa menjadi lebih hebat semangatnya dalam berhijrah. Tak seperti kita yang dari lahir kenal tuntunan tapi hanya sebatas tahu, malas dalam pengamalan.

Kau tahu, bahkan Nabi pernah menceritakan ada seorang yang catatan amalnya seperti penghuni neraka, hingga kurang sejengkal ia masuk neraka. Namun karena takdir pada akhirnya dia berbuat baik lalu masuklah surga. Sebaliknya ada seorang yang catatan amalnya seperti penghuni surga, bahkan kurang sejengkal dia bisa masuk surga. Namun karena takdir akhirnya dia berbuat maksiat lalu masuklah ke neraka.

Kau tahu, sekelam apapun masa lalu seseorang, masa depannya masih sangat suci. Takkan pernah kau bisa menilai seseorang atas dasar masa lalu secara mutlak. Namun lihat bagaimana akhir hidupnya, boleh jadi kau akan terperangah.

Kau tahu, setiap insan berhak menjadi baik, tidak seperti kamu yang sudah merasa baik padahal aslinya penuh munafik.

Dan akupun belum tentu sebaik yang terlihat, boleh jadi terburuk di mata Allah.
Maka, manusia jangan jadi Tuhan yang bisa menjustifikasi hati orang.
Tetaplah baik, tetaplah santun, tetaplah pandai melihat kedalam sebelum bicara.

 

 

 

Orang Baik ?

 

photo_2017-05-19_14-29-25

Catatan dari salah seorang Guru kami…

SUDAHKAH KITA MENJADI ORANG BAIK?

Mengapa Orang Baik lebih sering tersakiti..?

Sahabatku..
Karena orang baik selalu mendahulukan orang lain.
Dalam ruang kebahagiaannya, Ia tak menyediakan untuk dirinya sendiri,
Kecuali hanya sedikit.

MENGAPA ORANG BAIK TETAP TERTIPU..??
Karena orang baik selalu memandang orang lain dengan tulus seperti dirinya.
Ia tak menyisakan sedikipun prasangka bahwa orang yang ia pandang penyayang mampu mengkhianatinya.

MENGAPA ORANG BAIK ACAAP DINISTA..??
Karena orang baik tak pernah diberi kesempatan membela dirinya.
Ia hanya harus menerima, meski bukan dia yang memulai perkara.

MENGAPA ORANG BAIK SERING MENETESKAN AIR MATA..??
Karena orang baik tak ingin membagi kesedihannya.
Ia terbiasa mengobati sendiri lukanya, dan percaya bahwa suatu masa ALLAH akan menggantikan kesedihannya dengan kebahagiaan.

NAMUN ORANG BAIK TAK PERNAH MEMBENCI YANG MELUKAINYA.
Karena orang baik selalu memandang bahwa di atas semua, ALLAH lah hakikatnya.
Jika ALLAH menggiringnya, Bagaimana ia akan mendebat kehendak-Nya.
Itu sebabnya orang baik tak memiliki almari dendam dalam kalbunya.

Jika kau buka laci-laci di hatinya,
Akan kau temukan hanya cinta dan kasih sayang yang dimilikinya.
Semoga kita menjadi orang baik untuk sekarang dan selamanya.

Adalah saya akan tidak ikut aksi 212 ?

15284096_1554073034606779_1222117563198816208_n

Direpost dan dishare berkali-kali.
Dibaca pelan.
Merinding.
Subhanallah.
Ditulis oleh alumni ITB 93.

Cerita Inspiratif buat kita2 yg merasa sudah ‘cukup’ beragama….

Adalah saya akan tak ikut lagi aksi 212 ???

Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan.. bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dengan apa yg dipunya dan sedikit jalan2 menikmati dunia..

Saya anggap orang yg maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool… Janganlah sesekali dan ikut2an jadi orang norak… ikut kelompok jingkrang2 dan entah apalah itu namanya..

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu kalian jangan usil, jangan dengan kalian ikut saya tidak, artinya kalian masuk syurga saya tidak!, Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal..Saya bantu orang2, bantu saudara2 saya juga,, jgn kalian tanya2 soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang2 respek pada saya, temanpun aku banyak…tiap kotak sumbangan aku isi..

Saya masih heran, apa sih salah seorang ahok? Dia sdh bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi hatinya baik kok, saya hargai apa yang sudah dia buat bagi jakarta… Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada pilkada,, saya tak mau terbawa2 arus seperti teman2 kantor yg tiba2 juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari2 sensasi… paling juga mau selfie2..

Sampai satu saat….

sore ini dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki, saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih2, rompi hitam dan hanya beralas sendal,, muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah2 itu.. mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yg mau melintas, tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh2 atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal2an…. Ini aneh, biasanya kalau sdh bertemu orang ramai2 di jalan aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif…. Sore ini, di jalan aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah2 dan baju putih mereka yg basah terkena gerimis,…

Papasan berlalu, aku setel radio lain…ada berita,, rombongan peserta aksi jalan kaki dari ciamis dan kota2 lain sudah memasuki kota, ada nama jalan yg mrk lalui… Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu… Aku tertegun…

Lama aku diam ,, otakku serasa terkunci, analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan, tak kutemukan apa pun yg sesuai dengan pemikiranku, apa yg membuat mereka rela melakukan itu semua?? Apa kira2?.. aku makin sibuk berfikir…. Apa menurutku mereka itu berlebihan? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka2 ikhlas itu…. Apa mereka ada tujuan2 politik? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang memcapai tujuan bukan dengan cara2 itu…. Apakah orang2 dgn tujuan politik yang gerakkan mereka itu?.. aku hitung2, dari informasi akan ada jutaan peserta aksi,, berapa biaya yg harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu… Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi krn nilainya sangatlah besar….

Aku dalam berfikir, dalam mobil, masih dalam gerimis kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga… Terlihat di pinggir2 jalan anak2 sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue2 warung ke mereka, sepertinya itu dr uang jajan mereka yg tak seberapa…. Aku terdiam makin dalam… Ya Allah….kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini??? Kenapa hanya hal2jelek yang mau aku lihat tentang agamaku… Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku??

Aku mampir ke masjid, mau sholat ashar…aku lihat sendal2 jepit lusuh banyak sekali berbaris…aku ambil wudhu…

Kembali, di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yang tercecer,, muka mereka lelah sekali, mereka duduk,, ada yg minum, ada yg rebahan, dan lebih banyak yg lagi baca Quran… Hmmm

Aku sholat sendiri,, tak lama punggungku dicolek dr belakang, tanda minta aku jd imam, aku cium aroma tubuh2 dan baju basah dari belakang…. Aku takbir sujud,, ada lagi yang mencolek,. Nahh….Kali ini hatiku yang dicolek, entah kenapa… hatiku bergetar sekali, aku sujud cukup lama, mereka juga diam… Aku bangkit duduk,, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku…. Ya Allah… Aku tak pantas jadi imam mereka,. Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka…. Bagiku agama hanya hal2 manis, tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya , in style ..bla bla bla,… Walau ada hinaan ke agamaku aku harus ttp elegan, berfikiran terbuka… Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah, kenapa aku Kau jadikan aku imam sholat mereka?? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku??….

Hanya 3 rakaat aku imami mereka,, hatiku luluh ya Allah…. mataku merah nahan haru… Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu tapi tetap senyum.. agak malu2 aku peluk dia, dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali… Ini bisa jadi dia anakku juga,. Apa yg telah kuajarkan anakku soal islam? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini?? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh… dia demam sedikit aku panik… Aku nangis dalam hati…. di baju putihnya ada tulisan nama sekolah,. smp ciamis… Ratusan kilo dari sini…. kakinnya bengkak karena berjalan sejak dari rumah, dia cerita bapaknya tak bs ikut krn sakit dan hanya hidup dr membecak, bapaknya mau bawa becak ke jakarta bantu nanti kalau ada yg capek, tapi dia larang… Aku dipermalukan berulang2 di masjid ini… Aku sudah tak kuat ya Allah… Mereka bangkit, ambil tas2 dan kresek putih dr sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid,, rasa2nya melihat punggung2 putih itu hipang dr pagar masjid aku seperti sudah ditinggal mereka yg menuju syurga… Kali ini aku yg norak,, aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat,, air mataku keluar lagi…. kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian..

Sudah jam 5an,, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini…miting dgn klien sptnya batal… aku mikir lagi soal ke islamanku, soal komitmenku ke Allah, Allah yg telah ciptakan aku, yg memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini…. dimana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini??? Ada dimana? Imanku sudah aku buat nyasar di mana?…

Aku naik ke mobil, aku mikir lagi,. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yg telah lepas dalam benakku selama ini… Ada satu kata,. Sederhana sekali tanpa bumbu2… Ikhlas dalam bela agama itu memamg nyata ada…

Aku mampir di minimarket,, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap… Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional…. Ini kebangganku yg pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali… Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalanMu yang lurus, yg lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati….

Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat jumat dan berdoa bersama saudara2ku yang sebenarnya,. Orang2 yang sangat ikhlas membela Mu… Besok, tak ada jarak mereka denganMu ya Allah… Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yg basah kuyup hari ini….tak ada penggargaan dr manusia yg kuharap, hanya ingin Kau terima sujudku… Mohon Kau terima dengan sangat… Bismilahirahmanirahiim….

(1 Desember 2016 , Ditjeriteratakan oleh Joni A Koto, Arsitek, Urban planner.. alumni ITB 93)

Berperan untuk Allah


Bahkan Semutpun Berperan..

Ketika Namrud memutuskan untuk melemparkan Ibrahim ke dalam api, seekor semut mendengar kabar itu. Si semut lantas berpikir, “Apa yang harus kuperbuat? Bagaimana mungkin aku sanggup menolong khalilullah? Tak boleh bagiku untuk berdiam diri dan membiarkan itu terjadi karena Allah akan mempertanyakanku pada hari kiamat.”

Si semut pun membuat bejana dari kayu kecil, lalu pergi ke danau dan memenuhi bejana yang dibuatnya itu dengan air. Ia memikul bejana air itu dengan susah payah di atas punggungnya. Langkahnya pasti menuju tempat api yang telah dinyalakan oleh Namrud. Dalam perjalanan ke sana, si semut bertemu dengan seekor gagak, lalu si gagak bertanya dengan perasaan aneh,

Gagak : “Mau ke mana kau semut?”

Semut : “Aku mau ke kota raja.”

Gagak : “Apa yang kamu pikul itu sampai-sampai kau begitu payah membawanya?”

Semut : “Aku membawa bejana berisi air.”

Gagak : “Untuk apa air itu?”

Semut : “Tidakkah kau mendengar bahwa Namrud laknatullah telah menyalakan api untuk membakar Khalilullah Ibrahim ‘alaihis salam?”

Gagak : “Tidak, aku belum mendengar kabar itu. Namun, aku tak mengerti hubungan itu dengan air yang kau bawa ini?”

Semut : “Aku ingin turut ambil bagian untuk memadamkan api si Namrud.”

Gagak (seraya mencemooh) : “Hai semut bodoh, apakah kau merasa yakin bahwa dirimu bisa memadamkan api besar Namrud dengan sedikit air dalam bejana kecil ini?”

Semut : “Aku tahu bahwa aku takkan mampu memadamkan api besar itu karena hal itu memang berada di luar kemampuanku. Akan tetapi aku melakukan ini karena dua alasan.”

Gagak : “Apa kedua alasan itu?”

Semut : “Aku memastikan (di posisi mana aku berdiri) dan mengetahui sasaranku sehingga aku tahu apa yang kutuju. Dengan demikian aku bukanlah jenis makhluk yang tak peduli sehingga rela dengan keburukan yang terjadi. Aku harus punya andil untuk memberikan pertolongan meskipun itu di luar kemampuanku.”

Gagak: “Apa alasan kedua?”

Semut : “Agar aku punya alasan yang benar di depan Rabb-ku. Aku mengetahui khalilullah akan dibakar tapi aku tak melakukan apa-apa? Oleh karena itu aku bangkit memberikan bantuan sebesar kemampuanku. Aku tak mau membiasakan diri hidup tanpa kepedulian.”

Gagak pun mencemooh seraya meneruskan perjalanannya sambil tertawa. Adapun si semut yang tulus, ia berjalan terus menuju api Namrud dengan hati yang dipenuhi tekad kuat dan iman.

————————————————————–

Terlepas dari sumber yang antah berantah,

Namun mudah-mudahan ada yang bisa diambil faidahnya…

Lalu….Bagaimana peranmu untuk Allah..