Mengalahlah, kamu akan bahagia.

29

 

Mengalah….
Ya benar, mengalahlah.
Maka mudah mudahan hatimu semakin lapang.

Jangan habiskan tenaga untuk hal yang ‘nyusahin’ hati.. Mengalahlah..
Jangan suka ingin menjadi pemenang dalam berdebat jika sama sama emosi.
Mengalahlah.

Ada orang berdebat sengit istri, mungkin suami menang dalam bicara,
tapi istri terluka hatinya.

Ada suami dimarah istri, mungkin suami diam, tapi males pulang jadinya.

Ada anak muda tak mau kalah sama orang yang lebih tua, mungkin si anak muda menang bicaranya tapi orang tua itu robek hati dalam diamnya.

Ada kawan ngobrol sepele jadi berdebat, merasa hebat dan paling benar, mungkin menang tapi kawan males dekat dengan kamu lagi.

Ada penjual geram marah dengan pembeli yang nawarnya keterlaluan, mungkin penjual menang tapi pembeli kapok beli lagi disitu.

Jadi apa untungnya aku, kamu, kita ini bersikap keras, kasar dan mau menangnya sendiri.

Mengalahlah….
Demi kebaikan bersama, 
Demi kemaslahatan bersama,
Kembalikan keburukan, kepahitan dengan yang lebih baik.

Pernah lihat anak kecil berdua, rupanya kakak beradik. Berantem mereka berebut mainan lalu akhirnya si adek mengalah, “Buat kakak aja deh, adek ga papa”
Pasti kita kagum jadinya sama adek yang mengalah ini. Akhirnya bapaknya pun beri hadiah kepada sang adek.

Mengalahlah, ada kelapangan hati disitu yang membuat hatimu lembut penuh cinta.
Mengalahlah, untuk sesuatu yang memang berdampak baik untuk semua.
Mengalahlah, tekan egomu demi kemaslahatan yang lebih besar untuk semua.
Mengalahlah, balaslah keburukan, kepahitan dengan yang lebih baik.

Mengalahlah, maka kamu akan berbahagia..

Hidup ini bukan untuk berlomba menunjukkan siapa yang paling benar.
Hidup ini akan menjadi indah dengan kita semua bersama mengalah, menekan ego untuk bersama-sama membangun maslahat bersama, melangkah di jalan yang Allah suka.

 

 

 

Iklan

Kamu adalah Pahlawan dalam kisahmu sendiri.

photo_2016-07-24_14-22-29

Bukan tentang menangkap orang jahat, mendaki gunung atau menyelamatkan kota.
Ini tentang kisahmu mengatasi ‘pengganggu’ dalam hidupmu.

Apakah itu masalah dari dalam atau orang yang membuat masalah padamu.

Ini kisah tentang masalah yang membuktikan siapa dirimu pada semua orang.

Dan kamu menyadari bahwa hal terpenting yang bisa kamu lakukan dalam hidupmu adalah Menjadi Dirimu Sendiri.

You are The Hero of Your Own Story.
Jangan Lupa Bahagia. 

Hukuman yang tak terasa olehmu

WP_20160518_16_34_23_Pro

Renungan untukku dan untukmu….

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Seorang murid mengadu kepada gurunya:
“Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”.

Sang Guru menjawab dengan tenang:
“Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”.

“Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: Sedikitnya Taufiq (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”.

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari “kekerasan hatinya dan kematian hatinya”.

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di hadapanNya..?

Sadarkah engkau tidak diberikan rasa khusyu’ dalam shalat..? 

Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur’an, padahal engkau mengetahui firman Allah:
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”.

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya…

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang…

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..?? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..??? 
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..??? 

Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo’a kepadanya..???

Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..??? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..??? 

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..??? 

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..??? 

Semua bentuk pembiaran ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya… 

Waspadalah wahai anakku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban. 

Karena hukuman yang paling ringan dari Allah terhadap hambaNya ialah:
“Hukuman yang terasa” pada harta, atau anak, atau kesehatan.

Sesungguhnya hukuman terberat ialah: “Hukuman yang tidak terasa” pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa.

Karena itu wahai anakku, Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…

(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-‘Aidan di Masjidil Haram pada 22 Rajab 1437)

Kedewasaan.

Jodoh

“Barangkali ke stasiun berikutnya: Kedewasaan,” jawabmu dalam lamunan,
“Tempat kita akan menyadari betapa berharganya kebersamaan dan betapa perpisahan mengajarkan kita banyak hal. Tempat kita mengerti bahwa sesuatu yang paling kita tunggu dan inginkan sebenarnya adalah hal-hal kecil yang sedang kita dekap tetapi sering kita sepelekan di keseharian. Tempat di mana kita tak memberi ruang pada penyesalan-penyesalan tetapi mencari peluang-peluang untuk sejumlah kerja perbaikan.”

Fahd Pahdepie-Jodoh

Sebuah Dorongan –

-okee

tak terbayang kalo di dorong dari belakang.

Memberikan dorongan kepada seseorang adalah baik.
Namun bisa jadi justru membahayakannya.

Barangkali dia sedang di tepian jurang nan dalam, akibat dorongan yang diberikan justru bisa jadi membuatnya kaget dan jatuh ke dalam jurang.

Lalu,
Jika sudah terlanjur jatuh, apakah kamu mau menolongnya? bertanggungjawab menyelamatkannya ?

Ada tempat bagi tiap sesuatu,
Tentu akan lebih bijak jika melihat dulu kondisinya sebelum kita beri dorongan yang baik.

Memang, hal baik harus juga dilakukan dengan cara yang baik. 
Jika tidak bisa jadi celah kesalahfahaman dan fitnah.

Berusaha Istiqomah –

WP_20151014_007

Tenyata, menjaga konsistensi itu memang sulit. Sudah sekian lama belum bisa nulis di blog tercinta ini. Bukan tiadanya bahan menulis, namun memang belum sempat menyempatkan diri untuk menuliskan the journey of my life.

Memang banyak kisah yang terjadi dan semuanya pun tak harus dituliskan.
Kita berbicara tentang konsistensi yaitu ketetapan, usaha terus menerus melakukan sesuatu, keteguhan dan banyak sekali makna dari kata konsisten. Dalam bahasa agama kita menyebutnya Istiqomah. Kira-kira seperti itulah..hehe

Memulai memang mudah, yang susah adalah istiqomah.
Aku pribadi berusaha ketika Allah tengah menunjukkan hal baik kepadaku, jalan baik yang harus kutempuh. Lalu langkah selanjutnya adalah istiqomah, menjaga agar diri ini terus menerus di lingkaran kebaikan, menjaga agar diri ini terus menerus teguh dalam menjalankan yang benar, menjaga diri ini agar terus menerus kuat hati di hadapan godaan duniawi.

Sulit, ya memang sulit.. Sebagaimana sulitnya menjaga sholat 5 waktu berjamaah di masjid di awal waktu secara terus-menerus. Namun bukan berarti kemudian kita pesimis.

Jalan menuju Allah itu tidak ada yang mudah, penuh ujian.
Jalan dimana Adam AS kelelahan, Nuh AS mengeluh, Ibrahim AS dilemparkan ke samudra api, Ismail AS dibentangkan untuk disembelih, Yusuf AS di cemplungkan sumur dijual sebagai budak dan dipenjara, Zakaria AS digergaji, Yahya dipenggal lehernya, Daud AS menangis luar biasa, Isa berjalan sendirian, dan Nabi Muhammad SAW mendapat kefakiran dan berbagai gangguan.

Maka memang pantas berbalas surga di akhirat nanti.
Lalu apakah kamu sebagai manusia biasa, hamba penuh salah dan suka lalai akan Tuhannya ini pantas menginginkan Surga sedang jalan yang ditempuh mau enaknya saja..?

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”
(QS Fushilat :30)

Nikmat Allah itu banyak sekali tercurah kepadamu,
Senakal-nakalnya kamu… Lihatlah Allah tetap cinta sama kamu.
Nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan.

Ketika ada gerakan hati kepada yang baik, segeralah sambut.
Lalu kita jaga konsistensinya, berusaha tetap istiqomah.

Sabarlah wahai diri, Surga itu tempatnya orang yang sabar di dunia.
Bersikaplah keras pada diri sendiri, dan lunak kepada orang lain.
Bukan sebaliknya.

Baju Spesial itu….

Baju spesial, paling berharga, tidak pernah dipajang-pajang di depan toko, siapapun bisa pegang dan coba, bahkan dijual obral, diskon besar-besaran, yang kemudian jadi barang second, loakan.

Baju paling spesial, paling berharga, selalu dibuat, diukur, dijahit pas dan khusus sekali untuk seseorang. Yang setelah dimiliki, akan dijaga agar tidak kotor, lecek, serta kusam.

Maka, demikian juga perasaan dan diri kita sendiri. Apakah kita “Baju Yang Murah” yang bisa dipegang-pegang, dicoba, didiskon, jadi barang second? Atau kita adalah baju spesialnya?

-Tere Liye-

Mengapa tidak menjadi ?

oni ok

Waiting – di Batam

Ada yang bilang….

“Susah mencari wanita sholeh jaman sekarang” – Lelaki
“Susah mencari lelaki sholeh jaman sekarang” – Wanita

Lalu kenapa kita sibuk mencari ? kenapa tidak menjadi ?

Itu ungkapan yang absolutly right menurut aku. hehe

Namun, karena untuk aku saat – saat ini sedang tidak terlalu tertarik tentang cinta, memang sedang tidak mencarinya. Masih fokus untuk tujuan-tujuan penting tahun ini dan tahun depan. Maka, aku mencoba persepsikan tentang kalimat terakhir diatas… Itu sedikit menggelitik bagiku.. 

Lalu kenapa kita sibuk mencari ? kenapa tidak menjadi ?

Coba pikir…
Lebih sulit mana, saat kamu mencari dan belum tentu cocok,
atau saat kamu sibuk memperbaiki diri menjadi pribadi berkualitas cemerlang dan di cari karena kualitas dirimu yang sangat baik  ??

Saat orang lain sibuk mencari dia yang tepat, sibukanlah dirimu untuk menjadi pribadi yang tepat agar di cari orang.

Sederhananya begini, saat kamu cari sosok yang ideal dan baik bagimu tentu kamu akan sangat perhatikan bagaimana sikap dia, cara bicaranya, penampilannya, perilakunya, kualitas pribadinya sampai kita faham benar jika dia yang ‘pas’ buat kamu. Nah ini tinggal kamu balik posisinya, bagaimana jika kamu menjadi orang yang diperhatikan itu.  

Orang yang menjadi pantas……
dicari karena kualitasnya,
dibayar mahal karena memang pantas dibayar mahal,
dimasukkan bersama orang-orang hebat agar kamu jadi semangat belajar, 
dihebatkan karena kesungguhanmu,
disayangi karena kebaikanmu,
dan, ditemukan oleh jodohmu sendiri yang kualitasnya setara denganmu.
tentu yang saat itu dirimu sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Ada orang yang berpikiran bahwa bila kita tidak memikirkan untuk mencari pasangan maka kita tidak akan menemukannya. Layaknya bila kita tidak mencari uang bagaimana akan menemukannya.

Bukankah dalam hadits panjang riwayat Bukhori Nabi sudah menjelaskan, 

Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya (termasuk jodoh).

Jodoh, rejeki sudah ditulis….hukum kepantasan pun juga.
kalo kamu orang baik, maka pasanganmu juga baik.
kalo kamu semangat bekerja, rejeki pun semangat menghampirimu.
kalo kualitasmu pantas di bayar mahal, pasti orang berebut bayar mahal padamu.

kalo kamu malas-malasan, pun rejeki juga bermalasan datang.

Jadi segala aspek pun.. berlaku..
kenapa kamu sibuk menuntuk ‘hak’ ?
yang kadang kewajiban saja masih banyak belum dikerjakan.
kenapa kamu tidak menjadi ‘orang yang punya kualitas dibayar mahal’ ?
maka pasti rejeki akan mencarimu.

Dan pada akhirnya kamulah yang dipilih karena memiliki kualitas diri yang patut untuk diperhitungkan.

Berjuanglah agar menjadi pantas, tak perlu lah payah mencarinya..
Apapun itu, nantinya akan menghampirimu.

Qurban untuk akhiratmu, sudah ?

IMG_2015-14-9-20-49-33

dapat dari grup medos –

Beli gadget jutaan rupiah untuk duniamu boleh-boleh saja,
Tapi, beli kambing untuk Qurban akhiratmu, sudah?

Berkorban untuk dunia yang hanya 60-70 tahun saja sungguh-sungguh.
Saat Allah hendak mengingatkan Qurban untuk akhirat yang selamanya ?